Pembahasan
Hasil Wawancara
1.
Profil Usaha Sate Ayam Madura Tampah
Keliling
Lokasi : Beberapa wilayah di
Kecamatan Jetis (Kelurahan Cokrodiningratan dan Jetisharjo)
Jenis
Usaha : Perdagangan Jasa
Kuliner
Nama
Pemilik : Ibu Miyati
Omzet : Rp 10.000.000,00 / bulan
Berdasarkan wawancara yang telah dilakukan pada hari
Jum’at, 28 Oktober 2016 dengan seorang usahawan mikro/pengusaha reguler di
wilayah kota Yogyakarta, Ibu Miyati adalah salah satu dari banyaknya pengusaha
yang mencoba peruntungan dengan menjual keahliannya dalam bidang perdagangan jasa
kuliner. Produk dari jasa kuliner yang diproduksi oleh Ibu Miyati ini adalah
makanan khas di Indonesia khususnya di wilayah Madura yakni Sate Madura.
Walaupun merupakan makanan khas daerah lain, namun ternyata penikmat dari Sate
Madura ini tidak hanya masyarakat Madura maupun Jawa (sebagian besar suku di
Yogyakarta) saja, melainkan berbagai suku yang singgah atau bermukim di Kota
Yogyakarta, seperti warga Gorontalo, Manado, Aceh, Padang, Papua, Kalimantan,
dan lain sebagainya,
Ibu Miyati menjual Sate Ayam khas Madura olahannya
dengan cara berkeliling menggunakan Tampah. Tampah adalah sebuah papan kayu
berbentuk persegi panjang yang digunakannya sebagai tempat penyajian/menaruh
bahan-bahan dagangannya seperti ratusan daging sate ayam yang belum matang,
lontong dan ketupat, sebuah panci berukuran sedang sebagai tempat bumbu kacang,
tempat pembakaran dengan arangnya, botol kecap, bawang merah, sambal, cabe
rawit, dan daun pisang, dan steples. Tampah tersebut diletakkan di kepalanya
dengan bantuan selendang kain yang ia tekuk sedemikian rupa agar dapat
menyangga tampah tersebut diatas kepalanya. Ia juga membawa sebuah keranjang
yang digunakannya sebagai tempat kursi yang ia pergunakan untuk ia duduk.
Keranjang itu itu juga dipergunakannya untuk menyimpan sampah seperti bungkus
lontong yang sudah digunakan agar tidak mengotori lingkungan. Dengan menyerukan
“Sate… Sate…”, Ibu Miyati siap melayani pembeli di sore hari.
2. Motivasi
dipilihnya usaha tersebut (latar belakang dan sejarah)
Wilayah lokasi yang digunakan untuk berjualan oleh
Ibu Miyati ini cukup luas tepatnya dari pemukiman sekitar Jalan AM Sangaji
(Utara Tugu Yogyakarta) hingga Kelurahan Jetisharjo. Ketika ditanyakan mengenai
motivasi dari dipilihnya usaha sate ayam keliling ini, Ibu Miyati menjawab
bahwa usaha ini dilakukan sebagai mata pencaharian membantu suami nya untuk
memberi makan, menyekolahkan, dan untuk kehidupan anak-anaknya. Ibu Miyati juga
bercerita bahwa latar belakang atau sejarah mengapa ia memilih usaha ini
tentunya karena alasan turun temurun.
Ibu Miyati berpindah dari Madura ke Yogyakarta sejak
tahun 2004 dan sejak itu pula ia merintis usaha sate ini. Selain karena usaha
turun temurun yang sudah dilakoni oleh orang tuanya sejak dahulu, keahlian membuat
sate ini juga menjadi alasan utamanya. Walaupun ia memiliki sebuah tambak di
Madura, namun pasang surut dalam bertani justru menentukan nasibnya untuk
berwirausaha kuliner di Yogyakarta.
3. Keunggulan
bisnis disbanding kompetitor
Sate ayam Madura Ibu Miyati ini banyak diminati
warga. Ia bercerita bahwa terkadang lokasinya berjualan juga digunakan pedagang
lain untuk menjual sate olahannya. Namun, cita rasa khas orang asli Madura ini
membuat pelanggan-pelanngannya lebih memilih menunggu sate ayam Ibu Miyati
dibandingkan sate ayam lain. Selain memiliki cita rasa yang khas, sifat ramah
tamah dari Ibu Miyati ini tentu yang menjadi alasan lainnya. Banyak
pelanggannya yang mengungkapkan bahwa mungkin Ibu Miyati ini adalah
satu-satunya pedagang sate Madura yang ramah, dikarenakan beberapa pedagang
sate lainnnya yang berasal dari Madura memiliki kesan galak khas celana hitam
dan baju luriknya. Harga yang dipatok pun cukup merakyat. Dengan Rp 8.000,00
pelanggan sudah dapat mencicipi seporsi sate ayam ini. Bahkan Ibu Miyati juga
melayani permintaan pembeli walau dengan 3 tusuk sate atau pembelian lontong
saja. Tidak hanya disenangi oleh pelanggannya, sate ayam Ibu Miyati juga banyak
dipesan dalam berbagai event perusahaan besar seperti ulang tahu, pernikahaan,
dan lain sebagainya.
4. Tantangan
yang dihadapi pada periode awal usaha
Dalam periode awal usahanya, Ibu Miyati mengaku
tidak ada kesulitan yang berarti yang ia hadapi. Dari segi pembuatan produk
tentunya Ibu Miyati mendapatkan dengan mudah cara pengolahan sate tersebut dari
Ibunya. Sedangkan modal alat-alat yang ia gunakan untuk berjualan adalah
alat-alat masak di dapur sehari-hari yang bahkan apabila rusak dalam
penggunaannya, dapat ia perbaiki sendiri.
5. Pasar
atau sasaran yang dituju
Pasaran atau sasaran yang menjadi target pemasaran
dari Ibu Miyati tentunya adalah bapak, ibu, anak-anak, remaja, dan segenap
masyarakat disekitar jalan AM Sangaji tersebut. Banyak pula anak-anak kos dan
asrama Muhammadiyah 1 Jogja yang menjadi langganannya setiap hari bahkan dengan
nominal yang cukup besar.
6. Pola
kerja
Berikut
ini adalah bagan pola kerja dalam keseharian Ibu Miyati :
![]() |
Gambar
1. Bagan Pola Kerja
7. Sistem
Penjualan dan Sistem Pemasaran
Sistem
penjualan dan pemasaran yang digunakan oleh Ibu Miyati tentunya berkeliling
atau bertatap muka secara langsung dengan pembelinya. Namun, tidak hanya
berjualan secara langsung, akibat informasi dari mulut ke mulut membuat sate
Ibu Miyati ini juga laris dipesan oleh perusahaan besar untuk berbagai event.
Ibu Miyati juga memiliki strategi khusus bagi perusahaan yang telah
mempercayakannya yakni dengan memberi harga diskon dan sate gratis bagi para
karyawan perusahaan dan juga bagi sesorang yang telah membantu memberi jalan
dengan perusahaan tersebut.
8. Tantangan
usaha saat ini
Tantangan
yang masih menjadi kendala utama yang dirasakan oleh Ibu Miyati adalah cuaca
yang tidak menentu terutama pada musim penghujan seperti ini. Bila hujan turun
ringan maka Ibu Miyati masih dapat berjualan walau harus dengan mengenakan jas
hujan dan plastic besar untuk menutupi tampah dagangannya. Namun, apabila hujan
datang dengan lebatnya bahkan disertai angin kencang, maka Ibu Miyati harus
memutuskan harapannya untuk berjualan. Walaupun dagangan yang sudah ia persiapkan
dari pagi tidak akan mengalami basi, karena ia memiliki kulkas sebagai tempat
penyimpanan, namun apabila hujan turun secara terus menerus tentunya dagangan
yang disimpan akan menjadi anyir dan tidak memiliki kualitas yang sama lagi
untuk dapat dijual dan tentunya Ibu Miyati akan mengalami rugi. Sejauh ini Ibu
Miyati belum pernah mengalami kerugian yang berarti. Hanya saja tubuh yang
letih akibat setiap harus diajak berkeliling itu memerlukan pemijatan pada
tubuhnya agar ia dapat merasa segar kembali dan itu menjadi modal pengeluaran
tetapnya setiap bulan.
9. Perubahan
signifikan yang pernah dilakukan pelaku usaha untuk mengembangkan usahanya
Ibu
Miyati belum pernah melakukan perubahan yang signifikan selama ia berwirausaha
ini. Selama 12 tahun ia berjualan, ia tetap melakukan pola yang sama dalam
sistem penjualannya. Walaupun selama ini ia belum pernah mendapatkan complain,
kritik, atau komentar dari pelanggannya, namun ia tetap berusaha mempertahankan
cita rasa yang dimiliki oleh masakan olahannya dan juga keramahannya dalam
berinteraksi dengan masyarakat maupun lingkungnnya agar terus diminati oleh
masyarakat. Kedepannya Ibu Miyati berharap dapat memiliki sebuah kios di
pinggir jalan agar ia tidak perlu lagi keletihan karena berjualan dengan sistem
berkeliling.
10. Sikap
positif terhadap pelaku usaha
Saya
sebagai mahasiswa pembelajar berwirausaha, sangat antusias dan mengapresiasi
apa yang telah diusahakan Ibu Miyati dalam kurun waktu 12 tahun ini. Produk
olahan yang ia perjualbelikan disini juga merupakan upaya mempertahankan
kecintaan selera masyarakat terhadap makanan tradisional ditengah banyaknya
makanan modern yang di import dari negara lain. Menariknya lagi Ibu Miyati
mampu mempertahankan cita rasanya yang sangat disenangi oleh masyarakat. Sikap
ramah tamahnya terhadap pembeli juga merupakan point positif dalam
mempromosikan penjuanlannya dan membuat masyarakat semakain senang berlangganan
dengannya. Satu lagi yang perlu diapresiasi yakni kesadarannya akan kebersihan
lingkungannya dengan tidak membuah sampah dagangannya secara sembarangan namun
ia simpan dalam keranjangnya untuk nanti ia buang sendiri.
11. Kritik
terhadap pelaku usaha tersebut
Ibu
Miyati sempat mengatakan bahwa ia inigin berjualan dengan memiliki kios pinggir
jalan. Menurut saya, hal ini justru bukan pilihan yang tepat bagi Ibu Miyati.
Dikarenakan sistem penjualannya yang selama ini berkeliling, ini sama dengan
penjualan seperti menjemput bola, dimana penjual menghampiri langsung pembeli,
dan disana interaksi antara penjual dan pembeli lebih terjali karena penjual
berusaha melayani pembeli dengan kemudahan akses yang ia tawarkan.
12. Kesimpulan
Dari
hasil wawancara yang saya dapatkan dengan Ibu Miyati ini, saya menyimpulkan
bahwa apabila kita telah memilih usaha perdagangan jasa di bidang kuliner maka
hal pertama yang harus kita miliki adalah kemampuan untuk mengolah dan
memproduksi olahan makanan tersebut. Bahkan menjadi poin penting apabila
pengusaha memiliki cita rasa khas yang diminati olah masyakat. Pesan lain yang
saya dapatkan adalah bahwa petingbagi pengusaha kuliner untuk mempertahankan
cita rasanya. Ramah tamah terhadap pelanggan juaga merupakan promosi penjualan
yang efektif. Sistem penjualan keliling ini juga salah satu sistem penjualan
yang baik karena disini penjual menawarkan pulan kemudahan akses bagi pelanggan
untuk membeli dagangannya.
Lampiran

Gambar
2. Wawancara dengan Ibu Miyati

Gambar
3. Puluhan sate di atas tampah

Tidak ada komentar:
Posting Komentar