Kamis, 02 Maret 2017

TUGAS MATA KULIAH KEWIRAUSAHAAN WAWANCARA DENGAN PENGUSAHA SATE

Pembahasan Hasil Wawancara

1.      Profil Usaha Sate Ayam Madura Tampah Keliling
Lokasi                         : Beberapa wilayah di Kecamatan Jetis (Kelurahan Cokrodiningratan dan Jetisharjo)
Jenis Usaha                 : Perdagangan Jasa Kuliner
Nama Pemilik              : Ibu Miyati
Omzet                         :  Rp 10.000.000,00 / bulan

Berdasarkan wawancara yang telah dilakukan pada hari Jum’at, 28 Oktober 2016 dengan seorang usahawan mikro/pengusaha reguler di wilayah kota Yogyakarta, Ibu Miyati adalah salah satu dari banyaknya pengusaha yang mencoba peruntungan dengan menjual keahliannya dalam bidang perdagangan jasa kuliner. Produk dari jasa kuliner yang diproduksi oleh Ibu Miyati ini adalah makanan khas di Indonesia khususnya di wilayah Madura yakni Sate Madura. Walaupun merupakan makanan khas daerah lain, namun ternyata penikmat dari Sate Madura ini tidak hanya masyarakat Madura maupun Jawa (sebagian besar suku di Yogyakarta) saja, melainkan berbagai suku yang singgah atau bermukim di Kota Yogyakarta, seperti warga Gorontalo, Manado, Aceh, Padang, Papua, Kalimantan, dan lain sebagainya,
Ibu Miyati menjual Sate Ayam khas Madura olahannya dengan cara berkeliling menggunakan Tampah. Tampah adalah sebuah papan kayu berbentuk persegi panjang yang digunakannya sebagai tempat penyajian/menaruh bahan-bahan dagangannya seperti ratusan daging sate ayam yang belum matang, lontong dan ketupat, sebuah panci berukuran sedang sebagai tempat bumbu kacang, tempat pembakaran dengan arangnya, botol kecap, bawang merah, sambal, cabe rawit, dan daun pisang, dan steples. Tampah tersebut diletakkan di kepalanya dengan bantuan selendang kain yang ia tekuk sedemikian rupa agar dapat menyangga tampah tersebut diatas kepalanya. Ia juga membawa sebuah keranjang yang digunakannya sebagai tempat kursi yang ia pergunakan untuk ia duduk. Keranjang itu itu juga dipergunakannya untuk menyimpan sampah seperti bungkus lontong yang sudah digunakan agar tidak mengotori lingkungan. Dengan menyerukan “Sate… Sate…”, Ibu Miyati siap melayani pembeli di sore hari.

2.      Motivasi dipilihnya usaha tersebut (latar belakang dan sejarah)
Wilayah lokasi yang digunakan untuk berjualan oleh Ibu Miyati ini cukup luas tepatnya dari pemukiman sekitar Jalan AM Sangaji (Utara Tugu Yogyakarta) hingga Kelurahan Jetisharjo. Ketika ditanyakan mengenai motivasi dari dipilihnya usaha sate ayam keliling ini, Ibu Miyati menjawab bahwa usaha ini dilakukan sebagai mata pencaharian membantu suami nya untuk memberi makan, menyekolahkan, dan untuk kehidupan anak-anaknya. Ibu Miyati juga bercerita bahwa latar belakang atau sejarah mengapa ia memilih usaha ini tentunya karena alasan turun temurun.
Ibu Miyati berpindah dari Madura ke Yogyakarta sejak tahun 2004 dan sejak itu pula ia merintis usaha sate ini. Selain karena usaha turun temurun yang sudah dilakoni oleh orang tuanya sejak dahulu, keahlian membuat sate ini juga menjadi alasan utamanya. Walaupun ia memiliki sebuah tambak di Madura, namun pasang surut dalam bertani justru menentukan nasibnya untuk berwirausaha kuliner di Yogyakarta.
3.      Keunggulan bisnis disbanding kompetitor
Sate ayam Madura Ibu Miyati ini banyak diminati warga. Ia bercerita bahwa terkadang lokasinya berjualan juga digunakan pedagang lain untuk menjual sate olahannya. Namun, cita rasa khas orang asli Madura ini membuat pelanggan-pelanngannya lebih memilih menunggu sate ayam Ibu Miyati dibandingkan sate ayam lain. Selain memiliki cita rasa yang khas, sifat ramah tamah dari Ibu Miyati ini tentu yang menjadi alasan lainnya. Banyak pelanggannya yang mengungkapkan bahwa mungkin Ibu Miyati ini adalah satu-satunya pedagang sate Madura yang ramah, dikarenakan beberapa pedagang sate lainnnya yang berasal dari Madura memiliki kesan galak khas celana hitam dan baju luriknya. Harga yang dipatok pun cukup merakyat. Dengan Rp 8.000,00 pelanggan sudah dapat mencicipi seporsi sate ayam ini. Bahkan Ibu Miyati juga melayani permintaan pembeli walau dengan 3 tusuk sate atau pembelian lontong saja. Tidak hanya disenangi oleh pelanggannya, sate ayam Ibu Miyati juga banyak dipesan dalam berbagai event perusahaan besar seperti ulang tahu, pernikahaan, dan lain sebagainya.
4.      Tantangan yang dihadapi pada periode awal usaha
Dalam periode awal usahanya, Ibu Miyati mengaku tidak ada kesulitan yang berarti yang ia hadapi. Dari segi pembuatan produk tentunya Ibu Miyati mendapatkan dengan mudah cara pengolahan sate tersebut dari Ibunya. Sedangkan modal alat-alat yang ia gunakan untuk berjualan adalah alat-alat masak di dapur sehari-hari yang bahkan apabila rusak dalam penggunaannya, dapat ia perbaiki sendiri.
5.      Pasar atau sasaran yang dituju
Pasaran atau sasaran yang menjadi target pemasaran dari Ibu Miyati tentunya adalah bapak, ibu, anak-anak, remaja, dan segenap masyarakat disekitar jalan AM Sangaji tersebut. Banyak pula anak-anak kos dan asrama Muhammadiyah 1 Jogja yang menjadi langganannya setiap hari bahkan dengan nominal yang cukup besar.
6.      Pola kerja
Berikut ini adalah bagan pola kerja dalam keseharian Ibu Miyati :
 












Gambar 1. Bagan Pola Kerja

7.      Sistem Penjualan dan Sistem Pemasaran

            Sistem penjualan dan pemasaran yang digunakan oleh Ibu Miyati tentunya berkeliling atau bertatap muka secara langsung dengan pembelinya. Namun, tidak hanya berjualan secara langsung, akibat informasi dari mulut ke mulut membuat sate Ibu Miyati ini juga laris dipesan oleh perusahaan besar untuk berbagai event. Ibu Miyati juga memiliki strategi khusus bagi perusahaan yang telah mempercayakannya yakni dengan memberi harga diskon dan sate gratis bagi para karyawan perusahaan dan juga bagi sesorang yang telah membantu memberi jalan dengan perusahaan tersebut.

8.      Tantangan usaha saat ini
            Tantangan yang masih menjadi kendala utama yang dirasakan oleh Ibu Miyati adalah cuaca yang tidak menentu terutama pada musim penghujan seperti ini. Bila hujan turun ringan maka Ibu Miyati masih dapat berjualan walau harus dengan mengenakan jas hujan dan plastic besar untuk menutupi tampah dagangannya. Namun, apabila hujan datang dengan lebatnya bahkan disertai angin kencang, maka Ibu Miyati harus memutuskan harapannya untuk berjualan. Walaupun dagangan yang sudah ia persiapkan dari pagi tidak akan mengalami basi, karena ia memiliki kulkas sebagai tempat penyimpanan, namun apabila hujan turun secara terus menerus tentunya dagangan yang disimpan akan menjadi anyir dan tidak memiliki kualitas yang sama lagi untuk dapat dijual dan tentunya Ibu Miyati akan mengalami rugi. Sejauh ini Ibu Miyati belum pernah mengalami kerugian yang berarti. Hanya saja tubuh yang letih akibat setiap harus diajak berkeliling itu memerlukan pemijatan pada tubuhnya agar ia dapat merasa segar kembali dan itu menjadi modal pengeluaran tetapnya setiap bulan.

9.      Perubahan signifikan yang pernah dilakukan pelaku usaha untuk mengembangkan usahanya

            Ibu Miyati belum pernah melakukan perubahan yang signifikan selama ia berwirausaha ini. Selama 12 tahun ia berjualan, ia tetap melakukan pola yang sama dalam sistem penjualannya. Walaupun selama ini ia belum pernah mendapatkan complain, kritik, atau komentar dari pelanggannya, namun ia tetap berusaha mempertahankan cita rasa yang dimiliki oleh masakan olahannya dan juga keramahannya dalam berinteraksi dengan masyarakat maupun lingkungnnya agar terus diminati oleh masyarakat. Kedepannya Ibu Miyati berharap dapat memiliki sebuah kios di pinggir jalan agar ia tidak perlu lagi keletihan karena berjualan dengan sistem berkeliling.


10.  Sikap positif terhadap pelaku usaha

            Saya sebagai mahasiswa pembelajar berwirausaha, sangat antusias dan mengapresiasi apa yang telah diusahakan Ibu Miyati dalam kurun waktu 12 tahun ini. Produk olahan yang ia perjualbelikan disini juga merupakan upaya mempertahankan kecintaan selera masyarakat terhadap makanan tradisional ditengah banyaknya makanan modern yang di import dari negara lain. Menariknya lagi Ibu Miyati mampu mempertahankan cita rasanya yang sangat disenangi oleh masyarakat. Sikap ramah tamahnya terhadap pembeli juga merupakan point positif dalam mempromosikan penjuanlannya dan membuat masyarakat semakain senang berlangganan dengannya. Satu lagi yang perlu diapresiasi yakni kesadarannya akan kebersihan lingkungannya dengan tidak membuah sampah dagangannya secara sembarangan namun ia simpan dalam keranjangnya untuk nanti ia buang sendiri.

11.  Kritik terhadap pelaku usaha tersebut

            Ibu Miyati sempat mengatakan bahwa ia inigin berjualan dengan memiliki kios pinggir jalan. Menurut saya, hal ini justru bukan pilihan yang tepat bagi Ibu Miyati. Dikarenakan sistem penjualannya yang selama ini berkeliling, ini sama dengan penjualan seperti menjemput bola, dimana penjual menghampiri langsung pembeli, dan disana interaksi antara penjual dan pembeli lebih terjali karena penjual berusaha melayani pembeli dengan kemudahan akses yang ia tawarkan.

12.  Kesimpulan
            Dari hasil wawancara yang saya dapatkan dengan Ibu Miyati ini, saya menyimpulkan bahwa apabila kita telah memilih usaha perdagangan jasa di bidang kuliner maka hal pertama yang harus kita miliki adalah kemampuan untuk mengolah dan memproduksi olahan makanan tersebut. Bahkan menjadi poin penting apabila pengusaha memiliki cita rasa khas yang diminati olah masyakat. Pesan lain yang saya dapatkan adalah bahwa petingbagi pengusaha kuliner untuk mempertahankan cita rasanya. Ramah tamah terhadap pelanggan juaga merupakan promosi penjualan yang efektif. Sistem penjualan keliling ini juga salah satu sistem penjualan yang baik karena disini penjual menawarkan pulan kemudahan akses bagi pelanggan untuk membeli dagangannya.


Lampiran

Gambar 2. Wawancara dengan Ibu Miyati


Gambar 3. Puluhan sate di atas tampah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar